Senin, 24 Maret 2014

Teori Terjadinya Penyakit



TEORI – TEORI TERJADINYA PENYAKIT
Penyakit adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap orang yang dipengaruhinya. Penyakit adalah keadaan yang bersifat objektif sedangkan rasa sakit adalah keadaan yang bersifat subjektif. Seseorang yang menderita penyakit belum tentu merasa sakit, sebaliknya tidak jarang ditemukan seseorang yang selalu mengeluh sakit padahal tidak ditemukan penyakit apapun pada dirinya (Azrul Azwar, 1988:18).
KONSEP PENYAKIT
1.      Contagion theory
Di Eropa, epidemi sampar, cacar, dan demam tifus merajalela pada abad 14 dan 15. Pada saat itu mendorong lahirnya teori bahwa kontak dengan makhluk hidup adalah penyebab penyakit menular. Konsep itu dirumuskan oleh Girolamo Fracastoro (1483-1553). Teorinya mengatakan bahwa penyakit ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui zat penular, yaitu kantagion. Disebut juga teori cara penularan penyakit melalui zat penular. Konsep kontagion muncul pada abad XVI oleh Giralomo Fracastoro (1478-1553). Fracastoro dikenal sebagai salah satu perintis epidemiologi, ia juga dikenal sebagai seorang sastrawan yang terkenal di mana salah satu tokoh pelakunya bernama syphilis, yang hingga sekarang digunakan menjadi nama suatu penyakit kelamin.
Teori mengemukakan bahwa untuk terjadinya penyakit diperlukan kontak antara satu orang dengan orang yang lainnya. Fracastoro membedakan tiga jenis kontangion, yaitu:
1.      Jenis kontangion yang dapat menular melalui kontak langsung misalnya bersentuhan, berciuman, hubungan seksual
2.      Jenis kontangion yang menular melalui benda-benda perantara (benda tersebut tidak tertular, namun mempertahankan benih dan kemudian menularkan pada orang lain) misalnya melalui pakaian, handuk, sapu tangan
3.      Jenis kontangion yang dapat menularkan dalam jarak jauh
Menurut konsep ini sakit terjadi karena adanya proses kontak bersinggungan dengan sumber penyakit. Dapat dikatakan pada masa ini telah ada pemikiran adanya konsep penularan. Pada waktu itu orang belum mengenal kuman atau bakteri, namun mekanisme cara penularan menurut contagion tersebut mirip dengan cara yang dikenal sekarang dalam era bakteriologi. Misalnya dengan contagion dikenal cara penularan melalui kontak langsung (bersentuhan, berciuman, hubungan sex dll), melalui benda perantara (pakaian, sapu tangan, handuk dll) dan melalui udara (jarak jauh)
Teori ini tentu dikembangkan berdasarkan teori penyakit pada masa itu dimana penyakit yang melanda kebanyakan adalah penyakit yang menular yang terjadi adanya kontak langsung. Teori ini bermula dari pengamatan terhadap epidemic dan penyakit lepra di Mesir. Namun teori ini pada jamannya tidak diterima dan tidak berkembang.

2.      Hippocratic theory
Zaman Hippocrates (460-377 SM). Ia dianggap bapak epidemiologi pertama, karena beliaulah yang pertama-tama melihat bahwa penyakit merupakan fenomena massal dan menulis tiga buah buku tentang epidemi. Ia juga menguraikan bahwa penyakit bervariasi atas dasar waktu dan tempat sehingga pada saat itu  ia sebetulnya sudah tahu adanya pengaruh faktor alam/lingkungan yang ikut menentukan terjadinya penyakit. Dapat juga dikatakan bahwa beliau sudah dapat melihat bahwa frekuensi penyakit terdistribusi tidak merata atas dasar berbagai faktor seperti waktu, tempat, atribut orang, dan atau faktor lingkungan lainya. Faktor-faktor sedemikian, yakni yang ikut mempengaruhi terjadinya penyakit, tetapi bukan penyebabnya, disebut faktor determinan atau faktor penentu(Juli Soemirat, 2010:23-24). Jadi Teory Hypocrates menyebutkan, bahwa timbulnya penyakit karena pengaruh Iingkungan terutama: air, udara,tanah, cuaca (tidak dijeIaskan kedudukan manusia dalam Iingkungan).

3.      Miasmatic theory
Teori Miasma, penyakit timbul karena sisa dari mahkluk hidup yang mati membusuk, meninggalkan pengotoran udara dan Iingkungan.
William far menyebutkan bahwa miasma itu uap jasad renik yang membusuk. Hampir sama dengan Hippocratic teori, miasmatic teori menunjukkan gas gas busuk dari perut bumi yang menjadi kausa penyakit. Menurut teori ini penyakit timbul karena sisa dari mahkluk hidup yang mati membusuk, meninggalkan pengotoran udara dan Iingkungan.
            Teori Miasma Hippocrates menjelaskan bahwa penyakit terjadi karena “keracunan” oleh zat kotor yang berasal dari tanah, udara, dan air. Karena itu upaya untuk mencegah epidemi penyakit dilakukan dengan cara mengosongkan air kotor, membuat saluran air limbah, dan melakukan upaya sanitasi (kebersihan). Teori Miasma terus digunakan sampai dimulainya era epidemiologi modern pada paroh pertama abad kesembilan belas (Susser dan Susser, 1996a).
            Teori ini punya arah yang lebih spesifik , namun kurang mampu untuk menjawab pertanyaan berbagai penyakit. Teori miasma ini mulai berkembang pada awal abad ke 18 yaitu pada masa revolusi industri di Inggris, ketika terjadi wabah kholera di aliran sungai Thames. Pada waktu itu orang percaya bahwa bila seseorang menghirup uap busuk, maka ia akan terjangkit penyakit.
            Contoh pengaruh teori miasma adalah timbulnya penyakit malaria. Malaria berasal dari bahasa Italia mal dan aria yang artinya udara yang busuk. Pada masa yang lalu malaria dianggap sebagai akibat sisa-sisa pembusukan binatang dan tumbuhan yang ada di rawa-rawa. Penduduk yang bermukim di dekat rawa sangat rentan untuk terjadinya malaria karena udara yang busuk tersebut.

4.      Germ theory
Teori ini dikemukakan oleh John Snow (1813-1858), seorang dokter ahli anestesi dari Inggris. Ia berhasil membuktikan adanya hubungan antara timbulnya penyakit kholera dengan sumber air minum penduduk. Dari hasil perhitungan ini di kemukakan kesimpulan bahwa air minum yang tercemar dengan tinja manusia adalah penyebab timbulnya penyakit kholera. Kesimpulan ini diambil tanpa mengetahui adanya kuman kholera, karena pengetahuan tentang pengetahuan ini baru kemudian muncul. Pada teori ini jasad renik (germ) dianggap sebagai penyebab tunggal penyakit (Azrul Azwar, 1988:18).

1 komentar: